ARCS Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa

SMA Laboratorium UM me-recharge guru untuk menumbuhkan semangat baru dengan menyelenggarakan Workshop Pembelajaran Berbasis Motivasi ARCS (24/1). “Workshop ini bertujuan untuk membangun motivasi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas,” ungkap Kepala SMA Laboratorium UM Rosdiana Amini, M.Pd. saat membuka acara.

Workshop kali ini menghadirkan narasumber utama dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen (STIPAK) Malang Dr. Lidia Susanti, S.P., M.P. Lidia menyampaikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ARCS cukup bagus untuk mendorong serta mempertahankan motivasi siswa untuk belajar. “Pendekatan ini mengutamakan perhatian siswa, menyesuaikan materi pembelajaran dengan pengalaman belajar siswa, menciptakan rasa percaya diri siswa, dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa,” jelas Lidia.

Lebih lanjut, Lidia menyampaikan bila Attention (A) dan Relevance (R) sudah diperoleh maka rasa Confidence (C) pada siswa akan tumbuh. Kondisi ini bisa dilakukan dengan langkah-langkah antara lain, siswa memahami apa yang harus dilakukan, guru memberi kesempatan pada siswa untuk selalu berusaha sendiri, Hal inilah yang akan melahirkan rasa  Satisfaction (S). Untuk menguatkan kepuasan siswa, guru bisa memberi reward.

Sebagai penguatan, pengajar mata pelajaran sejarah Imam Pratama Adi Negara, S.Pd menjadi guru model dalam Peer teaching untuk memberikan penguatan serta memperdalam pemahaman peserta dalam menggunakan pendekatan ARCS. Materi yang dipilih adalah perang dunia II.

Beberapa hal yang bisa  diambil dari peer teaching yang sudah dilakukan adalah gambar tokoh-tokoh yang berperan dalam perang dunia II, menjadi Attention  siswa, Relevance diperoleh dari isi materi pembelajaran yang sesuai dengan kehidupan siswa sehari-hari yaitu tentang “cinta damai”. Kemampuan menjawab pertanyaan dan berpendapat merupakan wujud rasa Confidence siswa dan Satisfaction, proses kepuasan belajar siswa nampak dari munculnya rasa senang yang terwujud dalam tepuk tangan dan keceriaan yang nampak dari raut wajah siswa yang saat itu diperankan oleh guru.  Diharapkan dengan menggunakan pendekatan ARCS motivasi belajar pada siswa akan tumbuh lebih baik.

Diakhir kegiatan, Lidia menyampaikan bahwa tugas seorang guru memiliki muatan tanggung jawab yang beriringan dengan passion guru dan muatan kerja keras yang beriringan dengan kecerdasan. “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja,” ungkapnya. Pernyataan ini sebagaimana dikutip dari Buya Hamka bahwa, kalau hidup cuma untuk makan dan tidur binatang pun bisa melakukannya. Sebagai manusia tentu mesti punya nilai lebih. Sehingga guru masa kini dituntut lebih peka dengan fenomena siswa jaman sekarang yang mayoritas adalah anak-anak dengan gaya belajar visual. Oleh karena itu, kemampuan membangun motivasi siswa, sesunguhnya akan meringankan tugas guru. “Motivasi yang sudah terbangun akan membuat siswa mau bekerja melebihi apa yang diminta guru,” tambahnya. (sri/tia/vic)