Finalis Putra-Putri Berkarakter Unggul Datangi Museum Mpu Purwa

Para finalis putra-putri berkarakter unggul SMA Laboratorium UM mendapat banyak ilmu di Museum Mpu Purwa (21/10). “Tahap ini kita sudah menyaring 30 peserta dari 60 siswa kelas X, XI, dan XII,” terang Wakasek Humas Dra. Jumiati, M.Pd. Tidak tangung-tanggung, ilmu itu langsung disampaikan oleh pageant kakang mbakyu Wakil 1 kota Malang 2017 kang Essam dan mbakyu Rima serta Seksi Sejarah Nilai Tradisi dan Permuseuman Dinas Pariwisata Kota Malang Dra. Wiwik Wiharti R, M.Si.

“Untuk menjadi seorang duta harus memperhatikan 3 hal yaitu manner, matter, dan method,” ujar mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya Muhammad Essam atau biasa dipanggil kang Essam. Menurutnya, manner adalah bagaimana cara menyampaikan dan bersikap di depan umum. Matter atau materi yaitu kemampuan dalam menguasai materi yang disampaikan. untuk itu intelektual diperlukan dan otak tidak boleh kosong. Sedangkan method mengacu pada kemampuan menyampaikan materi secara terstruktur dan sistematis.

Dia berpesan kegiatan ini tidak berhenti sampai menjadi pemenang. Sekaligus dia berharap moment ini dapat digunakan sebagai sarana menyelamatkan pemuda dari kegiatan kurang positif. “Kalian harus bisa menjadi garda depan dan mengemban amanah sebagai pemuda berkarakter,” tambahnya.

Sementara mbakyu Rima, sapaan dari Nabila D.A. menambahkan tolak ukur putra-putri berkarakter setidaknya memenuhi brain, beauty, behavior, brave, dan believe. “Karakter ini harus dibawa ketika sudah menggunakan selempang,” pesan Rima. Menurut pengalaman yang sudah tergabung dalam pageant, banyak keuntungan yang didapatkan. Salah satunya adalah dalam mencari pekerjaan. “Saat ini saya menjadi penyiar di Radio Kalimaya Bhaskara dan MC di beberapa event,” ungkap Rima yang sekaligus masih aktif menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Psikologi.

Sebagai pamungkas, para finalis menyimak pesan moral  yang disampaikan Wiwik. Dalam paparannya dia meminta supaya kid zaman now tidak melupakan sejarah. Mengingat dengan keterbatasan sarana dan prasarana pada jaman kerajaan dan perjuangan menentang penjajahan, mereka memiliki semangat. “Sekarang kalian harus lebih semangat lagi,” tambahnya sambil mengengenalkan tagline “museum dihatiku”. Dia berharap kepada para finalis ini untuk berani tampil pada event lain pada tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. (fic)