Geliat Pabrik Tua di Era Industri Modern

Menaiki gerbong yang ditarik lokomotif tua di pabrik gula Madukismo Yogyakarta menjadi pengalaman menarik bagi 318 siswa kelas XI (5/2). Apalagi mereka berkesempatan melihat secara langsung mesin-mesin tua buatan Eropa yang masih tetap digunakan hingga sekarang. “Meskipun sudah memasuki  era industri modern yang serba digital, pabrik tua ini tetap beroperasi dengan baik demi memenuhi kebutuhan gula lokal agar impor gula berkurang,” ungkap kepala sekolah Rosdiana Amini, M.Pd.

Walaupun kegiatan ini dilaksanakan bukan saat musim giling, tetap tidak mengurangi semangat siswa. Terbukti tidak ada satu siswapun yang ijin untuk tidak mengikuti kegiatan ini. “Selalu semangat, menjaga sikap dan perilaku, dan senantiasa menjaga diri dan kesehatan adalah kunci utama kesuksesan kegiatan ini,” pesan Rosdiana saat seremoni pemberangkatan.

Rosdiana menambahkan kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian Outdoor Learning, yaitu agar siswa memiliki pengetahuan tentang dunia usaha atau industri. Di tempat ini rombongan disambut oleh Public Relation, Mahmud. Dijelaskan pabrik yang telah digunakan sejak tahun 1955 ini merupakan Badan Usaha Milik Negara yang memiliki latar belakang sejarah yang menarik. Gagasan pendirian pabrik bertujuan menolong rakyat. “Banyak karyawan kehilangan pekerjaan semenjak pabrik dihancurkan oleh Belanda, sehingga Sri Sultan Hamengku Buwono IX merintis kembali untuk mengatasi pengangguran,” ungkapnya.

Selain pabrik gula, siswa berkesempatan mengunjungi PT. Primissima. Sigit selaku Humas menjelaskan tentang sejarah berdirinya perusahaan, “PT. Primissima adalah patungan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI),” ujar Sigit. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa GKBI menyiapkan tanah, bangunan, biaya pemasangan, dan modal kerja. Sedangkan pemerintah membantu menyediakan mesin pemintalan dan pertenunan .  “Ini merupakan grant dari pengusaha tekstil Belanda yang ditujukan kepada GKBI untuk melestarikan produksi mori berkualitas tinggi (Primissima cap “Cent”),” tambahnya.

Di akhir sambutannya Sigit berpesan kepada para siswa agar mengembalikan citra diri anak muda yang sudah mulai pudar yaitu hilangnya tata krama atau karakter yang baik. Harapan ini bukan tanpa alasan,  karena pengalaman yang dialami oleh PT Primissima sendiri. “Banyak sekali karyawan muda tidak lagi menghormati para senior atau pendahulu-pendahulu mereka yang ikut berjuang membesarkan PT. Primissima,” terangnya.

Kemudian para siswa diajak melihat secara langsung pembuatan  benang hingga menjadi kain halus. Dalam produksinya semuanya sudah dikerjakan oleh mesin yang canggih yang langsung didatangkan dari Jepang dan Belanda. Sebenarnya ada lokasi yang masih menggunakan mesin tradisional yang merupakan ciri khas dari PT Primissima. “Kami tidak dapat menampung jumlah siswa yang melebihi kapasitas tempat,” imbuhnya.

Di akhir kunjungan, tak kalah menariknya siswa mengunjungi museum 3D De’ Mata dan pusat perbelanjaan yang kondang di Yogyakarta, yakni Malioboro. Siswa mengaku senang dan memperoleh banyak pengetahuan di bidang usaha atau industri. (tia/dev/vic/mia)