Global Learning ke Jepang

Global Learning kali ini merupakan kegiatan kelima yang dilaksanakan oleh SMA Laboratorium UM. Sebanyak 21 siswa dari semua angkatan dan 3 guru pendamping mengikuti serangkaian peningkatan dan membuka wawasan global di Osaka, Kyoto, Hiroshima, dan Tokyo pada tanggal 14-25 April 2017. Tujuan utama dalam kegiatan ini adalah peserta mengunjungi Kyoto Saikyo High School, Kyoto University, Hiroshima University, dan the University of Tokyo.

Saikyo High School adalah sebuah sekolah Internasional di Prefekture Kyoto. Sekolah ini memiliki lapangan dan gedung sekolah yang besar dan bersih. Tidak terlihat sampah berserakan di manapun baik di halaman maupun gedung sekolah. Ruang kelas yang kecil pun sangat bersih dan tertata rapi. Dengan sarana prasarana seperti lapangan olahraga yang luas, gedung sekolah yang besar dan bersih dari sampah serta sejuk walaupun tempat tertutup, kelas yang bersih dan rapi, aula yang besar dan bersih, serta adanya elevator menjadikan Saikyo High School sebagai tempat belajar yang representatif. Apalagi sebelum masuk ke dalam sekolah, peserta wajib mengganti sepatu dengan sandal khas sekolah tersebut, dan sepatu yang sebelumnya peserta kenakan disimpan ke dalam locker room. Juga sebelum masuk ke bilik toilet peserta juga harus melepas sandal dan menggantinya dengan sandal tradisional ala Jepang.

Tidak ketinggalan peserta memperkenalkan budaya Indonesia dengan menampilkan Tari Topeng khas Malang dan menyanyikan lagu tradisional ‘Kampuang nan jauh di Mato’. di akhir kunjungan, peserta diajak siswa dari Saikyo High School ke beberpa tempat di luar sekolah seperti kuil, tempat kartun anime, game center, dan musium. Kegiatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan budaya masing-masing negara.

Kunjungan kedua adalah Kyoto University. Meskipun gedung kampusnya kurang besar dan terbilang sederhana tetapi kebersihan dan keindahan kampus sangat terjaga dan terlihat nyaman. Di depan kampus terdapat beberapa kumpulan bunga dan beberapa tanaman hias yang digunakan sebagai hiasan. Sayang sekali pada saat itu kampus sedang menyelenggarakan ujian sehingga peserta tidak bisa lama berada di kampus.

Selanjutnya peserta menuju kampus utama Hiroshima University, yang berada di Higashi Hiroshima (Saijo), kota kecil yang terletak sekitar 30 km dari Hiroshima City. Kotanya tidak terlalu ramai sehingga nyaman untuk belajar. Kampus Highasi sangat luas, bangunannya sangat besar dan kokoh. Beberapa lokasi memiliki kemiripan dengan Osaka University. Informasi menarik disampaikan oleh Professor Taferner dari School of Integrated Arts and Sciences. Mulai bulan April 2018 akan dibuka program baru bernama Integrated Global Studies (IGS). Program kuliah setara S1 dengan lama studi fulltime 4 tahun dikhususkan bagi calon mahasiswa mancanegara yang mempunyai kemampuan bahasa Inggris sebagai komunikasi utama dalam perkuliahan dan bahasa Jepang sebagai bahasa pendukung.

Terakhir, peserta berkunjung ke the University of Tokyo  di 7-3 Hongo, Bunkyo-ku; Ketika akan masuk ke dalam kampus peserta melihat gerbang warna merah atau akamon. Jalanan sangat bersih. Sepanjang kiri kanan jalan banyak pohon ginkgo yang daunnya  menjadi simbol universitas ini. Tidak ada bunga sakura sama sekali di universitas ini yang menjadi ikon Jepang. Alasannya agar para mahasiswa tidak terganggu akan keindahannya dan tetap fokus saat kuliah. Begitu masuk gerbang dan berjalan lurus, peserta melihat jam besar (yasuda auditorium). Di  dalam kampus terdapat café, subway, Lawson, salon, gym dan danau atau Sanshiro Pond.

Satoshi Osawa, ketua Organisasi Kemahasiswaan didampingi oleh Teyaki Shobuya sebagai salah satu anggota Kemahasiswaan menjelaskan tentang Tokyo University besarnya 0,1% dari Jepang dan terdapat 98% mahasiswa asing yang kuliah di universitas ini. Sisanya sebanyak 2% adalah mahasiswa lokal. Ada 10 fakultas yaitu Agriculture, Arts and Sciences, Economy, Education, Engineering, Law, Letters, Medicine, Sciences, dan Pharmaceutical Sciences. Mahasiswa mancanegara banyak berasal dari Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Eropa.

Pengalaman yang dapat ditarik dari global learning Jepang adalah Jepang dikenal dengan lingkungan yang serba bersih. Jepang sangat ramah terhadap lingkungan alam. Dapat dibuktikan dengan pemilahan sampah antara sampah yang mudah terbakar, sampah plastik, dan botol. Dengan pemilahan tersebut, mereka akan mudah dalam mengelola limbah. Selama kita melintas jalan dan tempat di Osaka, Kyoto, Hiroshima atau Tokyo, jarang atau bisa dikatakan tidak ada tempat sampah tersedia di jalan-jalan, namun terlihat bersih dan asri walau sesekali kita bisa temukan sampah tercecer. Semua orang disiplin termasuk menyimpan sampah ke dalam tas atau bahkan saku pakaian. Dia percaya bahwa orang lain juga melakukan hal yang sama dan apabila ada orang yang melanggar kesepakatan tidak tertulis mengenai kebersihan dan keteraturan seperti orang yang buang sampah sembarangan, dia tidak akan ditegur, melainkan akan ditatap orang banyak dan dijauhi.

Selain itu, Jepang adalah salah satu negara yang serba disiplin. Kedisiplinan mereka sudah dimulai dari kecil. Dari cerita mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di OSaka, anak-anak dibiasakan untuk membereskan mainan sendiri, makan dan minum di tempat yang ditentukan.

Kemauan untuk antri juga terlihat di mana-mana, dari awal hingga akhir siklus hidup harian orang Jepang diwarnai dengan antri. Pagi ketika berangkat ke kantor, mereka antri masuk kereta yang menjadi alat transportasi andalan, saat akan makan siang, saat akan membayar di bank, atau saat akan pulang naik kereta. Semua orang antri. Satu hal yang membuat kita berdecak adalah tidak ada orang yang mencoba menyalip antrian. Mengantri panjang dan menunggu lama untuk dapat masuk ke tempat makan merupakan pemandangan umum yang dilakukan oleh orang Jepang. Di eskalator, memberi tempat kosong di sebelah kanan eskalator memiliki arti menghargai bagi orang yang terburu-buru. Disiplin dalam hal transportasi, dapat dilihat dari pengguna jalan yang selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, pengguna kendaraan yang lebih menghargai pengguna jalan yang akan menyeberang jalan. Suasana di kereta pun juga sepi meskipun banyak penumpang yang berdesak-desakan. Mereka kebanyakan sibuk dengan aktivitas sendiri seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau menggunakan telepon genggam.

Karena Jepang adalah negara maju, maka tidak heran jika serba otomatis. Semua fasilitas sudah tersedia dengan sangat baik, orang seperti dimudahkan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengannya. Namun hal tersebut tidak membuat orang Jepang menjadi semakin malas, malah semakin lebih mandiri. Kita bisa berefleksi terhadap diri sendiri, apakah selama ini kita menguasai fasilitas atau malah dikuasai oleh fasilitas?