Parenting Class Mengupas Problematika Generasi Milenial

Strategi menghadapi era milenial dikupas pada Parenting Class di aula Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (10/8). Kegiatan untuk kelas XII ini dijadikan momen para orang tua dalam mendidik anak milenial yang cenderung bergerak cepat, multitasking, kritis, ekspresif, kreatif dan inovatif. Juga,  bagaimana seorang anak menghadapi era milenial yang sangat akrab dengan teknologi. “Orang tua dan siswa berada di aula yang berbeda,” ungkap Kepala Sekolah Rosdiana Amini, M.Pd.

Menurut Rosdiana, siswa berada di aula Ki Hajar Dewantara berdekatan dengan orang tua di aula H.O.S Cokroaminoto. Para orang tua diberikan tambahan wawasan tentang bagaimana menjadi orang tua yang bijak dalam menghadapi anak di era milenial. Pemateri Ahmadi Yuliono, SH, MBA menegaskan pentingnya orang tua memahami karakter anaknya, sehingga bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak. “Saya bukanlah ahlinya dalam memahami anak, tetapi Bapak Ibulah yang lebih mengetahui,” papar Ahmadi.

Namun Ahmadi meminta orang tua memahami karakteristik dan gaya belajar anak. Hal ini sangat penting dalam membangun kedekatan emosi antara orang tua dan anak. Terutama sekali dalam mempersiapkan dan menata mental anak menghadapi ujian nasional dan melanjutkan studi lanjut atau meraih cita-citanya.

Sementara itu, di ruang Ki Hajar Dewantara, Evandi Sakna Tambunan, ST berusaha menggali impian siswa dengan menanyakan apa yang akan dilakukan setelah lulus. Beberapa siswa menjawab ingin masuk perguruan tinggi negeri seperti ITB, UI, UGM, UB dan UM. ”Kampus yang kalian pilih haruslah yang berkualitas karena banyak lingkungan kerja telah menantimu, bahkan sebelum kalian lulus, ” pesan Evandi di tengah-tengah presentasinya.

Lebih lanjut Evandi mengatakan sembilan puluh persen keberhasilan individu ditentukan oleh faktor emosi. Artinya aspek kognitif hanya sepuluh persen saja.  “Kesuksesan dan keberhasilan harus diperjuangkan, tidak ada yang dapat diraih dengan instan”, imbuhnya.

Selanjutnya, Evandi mengatakan emosional intellegen adalah asset manusia yang tidak bisa digantikan oleh robot atau artificial intelegency. Mengasah kemampuan berkomunikasi, team work, memanajemen waktu dan fleksibilitas adalah bentuk soft skill yang bisa mengantarkan siswa mengatasi segala tantangan dari luar.

Pada puncak acara parenting class ini mempertemukan anak dengan orang tuanya masing-masing. Tangis kebahagiaan berbaur pada sesi penyatuan visi  misi. “Peluk cium dan saling minta maaf tak terbendung saat anak-anak membacakan surat yang berisi ungkapan hati mereka pada orang tua,” tambah Rosdiana. (dew/dev/jum/vic)