Ramadhan: Momen Refleksi dan Muhasabah Diri

Pondok Ramadahan tidak dibiarkan begitu saja oleh siswa SMA Laboratorium UM. Pasalnya mereka memanfaatkan momen ini sebagai refleksi dan muhasabah diri secara kaffah. Terbukti jika dulu ketika tarawih yang menjadi imam sholat adalah guru atau ustadz, kali ini imam sholawat tarawih berasal dari siswa. Mereka secara mandiri mengajukan diri untuk menjadi imam bagi teman-teman, guru, dan karyawan.  Mereka begitu fasih dan merdu dalam melantunkan ayat-ayat suci al quran. “Hal ini sangat membanggakan kami, begitu semangatnya anak-anak menggapai keberkahan ramadhan dan menyambut lailatul qadar. Berani menawarkan diri menjadi imam tarawih saja sudah menjadi kebanggaan terbesar bagi kami,” ujar Wakasek Kesiswaan M. Khabib Shaleh.

Khabib menjelaskan  tema yang diangkat yaitu menggapai lailatul qadar di ramadhan barokah. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini sengaja mengangkat tema itu dengan tujuan memberikan wawasan serta mengenalkan beribu keberkahan yang bisa didapatkan pada malam seribu bulan ini.

Sementara Ust. Faris Fauzi, L.C. memberikan tausiah tentang pentingnya menggapai lailatul qadar atau disebut juga “atta’dhim”. “Malam yang diagungkan, yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan atau sama dengan 83 tahun,” tambahnya. Apalagi umur manusia kurang lebih 60 sampai dengan 70 tahun.

Selain tausiah, pemberian materi keagamaan, buka bersama, dan sholat tarawih, Pondok Ramadhan disempurnakan dengan bagi zakat dan 110 bingkisan parcel bagi dhuafa. Parcel yang berisi paket sembako ini merupakan sumbangan dari para civitas akademika SMA Laboratorium UM.

“Semoga di Ramadhan 1440 H ini kita semua benar-benar mendapat keberkahan dengan memberi dan berbagi,” harap Khabib. Sehingga dengan melibatkan siswa dalam menghimpun sampai menyerahkan, sekolah ingin mengajak siswa lebih peka dan selalu peduli kepada sesama yang memiliki nasib yang kurang beruntung. (vir/vic)