Siapkan Guru Kreatif Hadapi Abad 21

Bertajuk pengembangan kurikulum RPP K-13 berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills), pada tanggal 8 dan 9 Meret 2019 para guru SMA Laboratorium UM mengikuti workshop dua hari (9/3). Menghadirkan pakar pengembangan sekolah dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur Dr. Wahyu Nugroho, SH, MM dan Dr. Dwi Ilham Rahardjo, M.Pd. Turut hadir pengawas Pembina Sekolah Sri Kaeni, M.Pd. “Kegiatan ini merupakan rangkaian diklat penguatan kepala sekolah yaitu membuat Rencana Pengembangan Sekolah,” ungkap Kepala Sekolah Rosdiana Amini, M.Pd

Menurutnya, diklat yang diikuti adalah berdasarkan surat yang dikeluarkan Direktur Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Dr. Supriano, M.Ed tanggal 8 Agustus 2018. Surat tersebut dengan jelas menyatakan kepala sekolah yang sudah menduduki jabatan harus mengikuti pelatihan penguatan kepala sekolah. Apalagi Permendikbud nomor 6 tahun 2018 menyebutkan setiap kepala sekolah wajib lulus diklat penguatan untuk mendapatkan Nomor Unik Kepala Sekolah (NUKS).

Hasil dari diklat tersebut sekolah harus mengembangkan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Sehingga langkah awal yang sangat mendesak adalah meningkatkan standar proses melalui pengembangan pengajaran berbasis HOTS. Alasannya, Rosdiana melihat  kenyataan di lapangan menunjukkan selama ini bentuk soal dan penilaian sudah mengarah pada HOTS. Agar mencapai tujuan yang diharapkan maka guru perlu mengembangkan pengajaran diawali dari RPP yang benar. “Selama ini RPP kita belum sepenuhnya mengarah pada membelajaran yang HOTS,” tambah Rosdiana.

Hal senada disampaikan Dr. Wahyu Nugroho, SH, MM. “Pembelajaran HOTS saat ini lagi hot-hotnya,” ungkap Wahyu. Menurutnya soal-soal UN dan masuk perguruan tinggi itu diikuti di dalamnya dengan HOTS. Padalah sebetulnya pembelajaran tingkat tinggi ini sudah lama ada, yaitu mirip dengan teori Taksonomi Bloom.  “Kita mulai mengenal pada 2009 dan baru sekarang kita masuk ke area ini,” ungkapnya.

Dengan demikian guru dan siswa tidak lagi hanya mengerti, memahami atau menganalisis tetapi harus sudah mulai mencipta. Selanjutnya segala rancangan tentang kurikulum K-13 dan RPP mengarah pada HOTS. Tetapi di dalamnya harus tetap memuat literasi, PPK, dan pembelajaran abad 21.

Sementara Dr. Dwi Ilham Rahardjo, M.Pd menyatakan saat ini sekolah harus melakukan peningkatan kompetensi pembelajaran agar kualitas pembelajaran di kelas meningkat. “Kita sudah tahu kesenjangan tinggi antara (kompetensi) peserta UN dengan standar soal UN,” ungkapnya. Artinya masih banyak siswa yang tidak dapat mengerjakan soal UN dengan baik. Masalah semakin berat  pada siswa yang akan menghadapi ujian. Apalagi prosentase soal penalaran pada UN ke depan akan ditingkatkan. Alasannya, dari tahun 2000 sampai 2015 hasil skor PISA Indonesia dan TIMMS selalu kalah.

Kekalahan ini terjadi disinyalir PISA dan TIMMS selalu menggunakan soal HOTS dan siswa kita belum terbiasa. Sejauh ini Indonesia masih pada ranah menggencarkan soal HOTS untuk mengejar ketinggalan. Kenyataannya masih ada kendala mengingat pembelajarannya tidak HOTS. “Tidak masuk akal jika penilaiannya HOTS sementara pengajarannya konvensional,” tambahnya. (vic/jum)