SMA Laboratorium UM Menuju Kemandirian Berbudaya Lingkungan Hidup

SMA Laboratorium UM berkomitmen mewujudkan sekolah asri dan rindang. Apalagi pada tahun 2022, sekolah menargetkan bisa mencapai sekolah Adiwiyata Propinsi Jawa Timur. Namun, polemik selama ini perangkat pembelajaran yang dapat dikaitkan dengan lingkungan sekitar “masih” didominasi pelajaran MIPA (Kimia, Fisika dan Biologi). Padahal, menurut tim Adiwiyata tingkat nasional Ida Wahyuni, S.Pd., M.Pd, perangkat pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan sekolah tidak hanya pada pelajaran tertentu. “Semua mata pelajaran bisa dimasukkan ke dalam aspek lingkungan berbudaya yang memacu kreatifitas siswa untuk disiplin,” terang Ida saat memberikan materi workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran untuk mendukung gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup Sekolah (PBLHS).

Hal senada disampaikan Kepala SMA Laboratorium UM Rosdiana Amini, M.Pd. Tujuan workshop adalah untuk meningkatkan kemampuan guru menyusun rancangan pembelajaran berbasis peduli dan berbudaya lingkungan hidup sekolah. “Perangkat belajar disesuaikan dengan kondisi lingkungan lokal, regional, maupun lingkup yang lebih luas dengan melibatkan semua mata pelajaran,” ungkap Rosdiana.

Lebih jauh Ida menjelaskan  dasar hukum peduli lingkungan yang dikaitkan dengan perangkat pembelajaran termuat dalam kebijakan pemerintah di Permen LKH No. 52 tahun 2019 tentang Gerakan peduli berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS). Dia berharap kegiatan ini menghasilkan Rancangan Pembelajaran berbasis Penerapan Perilaku Ramah Lingkungan Hidup (PRLH) yang meliputi 6 kegiatan pembelajaran yakni kebersihan, fungsi sanitasi dan drainase, pengelolaan sampah, penanaman dan pemeliharaan pohon/tanaman, konservasi air, konservasi energy, dan inovasi terkait penerapan PRLH lainnya.

Salah satu mata pelajaran yang memberikan paparan tentang PRLH yaitu bahasa Jerman yang diampu oleh Angesti Murdaningsih, S.Pd. Angesti berhasil menunjukkan kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa untuk berinovasi mengajak teman sebaya dalam berperilaku sesuai PRLH. GPBLHS ini juga menjabarkan pentingnya kemandirian dalam berlingkungan hidup yang sesuai dengan karakter yang ada di sekitarnya.

Waka Kurikulum Deddy Setiawan, M.Pd menuturkan sekolah berbasis lingkungan hidup bukan merupakan hal baru dalam dunia pendidikan sehingga program penyusunan perangkat pembelajaran perlu disosialisasikan. “Guru harus mampu merencanakan, mengintegrasikan, dan melakukan penilaian dengan mengacu pada rancangan pembelajaran berbasis lingkungan hidup sehingga kreatifitas dan kepekaan siswa terhadap lingkungan bisa maksimal,” pungkas Deddy. (dmd/guh/vic)